Pembenaran Dibalik Kebenaran

 Assalamualaikum wr wb.


Kali ini saya akan membahas pembenaran dibalik kebenaran, yang akan diawali denga membahas salah satu kata yang popular, yaitu kata "baper" yang sering disalahartikan. Tentunya kita sudah tidak asing dengan kata baper bukan? Baper yang merupakan kepanjangan bawa perasaan, sering kali dijadikan kambing hitam saat kita tengah melakukan kesalahan, dijadikan dinding pelindung untuk mencari pembenaran atau dijadikan panggung untuk kita menjatuhkan seseorang.

Hanya karena seseorang berniat untuk bercanda, dan orang lain tidak mengartikan kalimat tersebut sebagai sebuah kalimat candaan, seseorang itu bisa menggunakan kata baper sebagai tameng agar dia tidak disalahkan. "Baperan banget sih, orang cuma becanda doang kok" atau "gitu aja marah, baperan deh" dsb. Sadar atau tidak sejak kita mengenal kata "baper" kita memang lebih sering menyalahkan daripada menyadari bahwa kita sedang melakukan kesalahan. Padahal bisa saja memang disaat tersebut kita ada diposisi yang salah. 

Kita tidak berhak memaksa seseorang untuk setuju atau menolak penilaian yang diberikan oleh seseorang terhadap apa yang kita katakan. Bisa jadi hal yang kita anggap candaan, hal yang sering kita ucapkan sebagai kebiasaan, suatu saat bisa menyinggung orang lain. Kita tidak berhak terhadap diri orang lain, tapi kita punya kendali terhadap diri kita sendiri. Saat kita menyadari sedang bergesekan dengan orang lain, alangkah baiknya kita mengintropeksi diri, mencari kebenaran, bukan hanya mencari pembenaran. Harusnya kita berpikir, "Kenapa sih dia bisa ngambek ?" Bukannya berpikir, "dia sih emang ngambekan, dibecandain gitu aja langsung baper"

Kita harus bisa mendengar alasan orang lain dan memandang sesuatu secara objektif, bukan hanya subjektif menurut sudut pandang pribadi. Saat seseorang tersinggung, percayalah jika seseorang sudah menampakkan ketidaksenangan mereka, itu artinya mereka benar-benar tidak nyaman. Seseorang cenderung akan menutupi ketidakseimbangannya terhadap sesuatu saat rasa itu memiliki kadar yang rendah, tapi jika rasa itu sudah bertambah besar, barulah mereka akan menampakkannya. Kita tidak pernah tau masalah atau cobaan apa yang tengah dihadapi orang lain, atau pun kita tidak tau bagaimana kondisi orang tersebut sesungguhnya. Oleh karena itu, saat ada yang tidak sepaham dengan kita, alangkah baiknya kita mencari titik tengah. Toh, mengalah tidak berarti kalah, justru seseorang yang menyadari kesalahannya, mengalah untuk meminta maaf, akan terlihat lebih bijaksana. Meski kata maaf kembali susah untuk diucapkan karena yang kita lawan adalah ego, ego dalam diri, yang sering disangkut-pautkan dengan harga diri. Padahal dengan meminta maaf tidak akan merendahkan harga diri kita sedikit pun.

Disisi lain saat melihat orang lain diposisi pihak yang bersalah, orang-orang cenderung mengatakan "aku sih nggak gitu, beda sama si A, si B dan si C. Aku sih nggak akan ngelakuin hal itu ya seandainya ada diposisi dia". Yah, itu adalah contoh beberapa kalimat merendahkan yang sering tidak kita sadari sudah membaur dimasyarakat. Hanya karena ingin dinilai berbeda, dalam tanda kutip lebih baik dari orang lain, seseorang tanpa pikir panjang bisa menjatuhkan derajat orang lain untuk mencapai posisi itu. Tapi, pernah nggak sih kita berpikir, kalau kita ada diposisi si A, si B atau si C itu, siapa yang akan menjamin kita tidak akan melakukan kesalahan yang sama ? Siapa yang akan menjamin kita masih bisa berpikir jernih atau justru malah berbuat lebih buruk dari mereka ? Tidak ada, tidak ada jaminan kita bisa berbuat lebih baik atau lebih buruk dari orang lain, saat sedang dalam kesulitan (situasi sulit / keadaan genting). 

Tanpa sadar kata-kata pembanding tadi membuat seseorang kembali merasa memiliki pelindung yang membuat mereka merasa aman dan nyaman, daripada harus berempati dengan keadaan orang lain. Kalau kata orang, kita nggak akan ngerasain gimana jadi orang susah, sebelum benar-benar hidup susah, bahkan saat kita berpuasa yang maknanya juga untuk mensyukuri nikmat dan merasakan bahwa masih banyak orang yang sedang kesusahan untuk mencari makan, kita tidak sepenuhnya merasa seperti itu, kita masih bisa melampiaskan dahaga dan rasa lapar kita dengan mengonsumsi makanan yang lezat dan bergizi saat sahur dan berbuka, berbeda dengan mereka yang memiliki kekurangan dalam hal ekonomi. Jadi, kita tidak bisa menyamakan pola pikir kita saat ini, dengan keputusan yang orang lain ambil dalam keadaan tertentu, karena kita tidak merasakan bagaimana berada diposisi orang tersebut.

Semakin kita ingin terlihat lebih baik dari orang lain dengan cara merendahkan mereka, semakin kita terlihat jauh lebih rendah dibawah mereka. Kita tidak bisa naik dengan cara merendahkan orang lain. Meskipun sadar atau tidak hal tersebut memang sudah sering terjadi, contohnya dikalangan wanita sendiri, mereka sering membanding-bandingkan satu dengan yang lain hanya untuk predikat "berbeda". "Aku sih nggak kayak perempuan lain yang sukanya pakek sepatu x, suka dandan, bajunya harus bermerek y, dan suka pergi ke tempat z". Sekatng saya tanya, memangnya ada ya parameter kalau jadi perempuan itu harus suka sepatu x, baju bermerek y dan suka mengunjungi tempat z ? Setau saya tidak.

Hanya karena seseorang merasa dia berbeda dengan lingkungannya, bukan berarti dia bisa merendahkan orang-orang dilingkungan tersebut, apalagi sampai merendahkan gender mereka sendiri. Pandangan "aku sih nggak kayak...." Itu seperti menegaskan bahwa seseorang itu memiliki hal lebih, istimewa dan jarang ditemui. Tapi, mari kita berpikir sejenak, bukankah orang yang mengenal kita dengan baik tidak membutuhkan itu ? Mereka nggak peduli dengan sebaik atau seburuk apa deskripsi yang kita berikan, karena mereka sudah jauh mengenal kita lebih dulu. Begitupun sebaliknya dengan orang yang tidak menyukai kita, banyak apapun deskripsi baik yang kita berikan, tidak lantas membuat mereka langsung berbalik untuk menyukai kita.

Meskipun sejatinya setiap orang ingin dianggap keberadaannya, ingin diakui bahwa dia ada ditengah-tengah suatu kelompok, tapi dengan membawa-bawa orang lain, dan ingin selalu terlihat benar bukan hal yang baik untuk dilakukan. Tuhan menciptakan banyak manusia tentunya dengan sifat dan sikap yang berbeda-beda, tidak ada yang sama persis, bahka saudara kembar identik pun masih memiliki perbedaan, jadi kenapa kita malah sibuk mencari perbedaan untuk mendapatkan pembenaran hanya karena kita ingin terlihat lebih dari orang lain ? Padahal yang harusnya kita tegakkan adalah kebenaran, bukan pembenaran yang sering diagung-agungkan itu.


Teruntuk kita yang tengah merenung membaca tulisan ini, semoga kita senantiasa belajar untuk memperbaiki diri, selalu berusaha lebih baik lagi dan bisa melangkah tinggi tanpa harus menginjak orang lain.

Terima kasih

Wassalamualaikum wr wb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beda Pilihan Bukan Alasan Untuk Saling Menyalahkan

Cita dan Bahagia

Identitas yang Disalahartikan