Identitas yang Disalahartikan

 Assalamualaikum, untuk mengisi Sabtu malam ini, ada pembahasan yang menarik yang menggoda saya untuk menuliskannya. 

Sesuai judul, kali ini kita akan membahas tentang identitas yang disalahartikan. Apasih identitas itu ? Bagi umat muslim tentunya sudah tidak asing lagi dengan kata kerudung. Menurut KBBI sendiri kerudung berarti kain penutup kepala perempuan.

Kenapa kali ini saya membahas hal tersebut ? Jawabannya adalah karena banyaknya kesalahanpahaman dalam pemakaian kain penutup kepala tersebut, entah itu dari umat muslimnya sendiri atau dari agama lain.


Allah SWT berfirman dalam QS An Nur ayat 31:


"Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."


Perintah tersebut sudah jelas tertulis dalam kitab suci Al-Qur'an, lalu apa lagi yang menyebabkan orang-orang masih tidak setuju ? Banyak spekulasi yang mendasarinya, diantaranya :

1. Pakek kerudung itu panas

2. Perempuan itu bebas memilih dan mengenakan apa yang dia mau

3. mau memperbaiki diri dulu baru mau berkerudung

4. sampai statement tentang perempuan berkerudung itu sudah pasti baik, dan dituntut untu menjadi baik.

5. Dsb.


Coba kita bahas satu persatu, kalau alasan yang pertama menggunakan kerudung adalah rasa panas, tentunya dalam agama kita sudah lebih dulu diajarkan bahwa ada yang lebih panas dari panasnya di dunia bukan ? Masih ada api neraka yang siap membakar setelah hari kebangkitan kelak. Kalau memang alasan tersebut belum kuat, kenapa kita tidak mencoba dengan membiasakan diri, kalau masih merasa menggunakan kerudung di luar rumah itu gerah kenapa kita tidak membatasi kegiatan di luar rumah sambil belajar untuk menggunakan kerudung dengan perlahan. Kalau waktu kita lebih banyak kita habiskan di rumah yang berisi mahram kita, tentunya kita masih diizinkan untuk tidak memakai kerudung di sana, berbeda dengan saat di luar rumah yang memiliki kemungkinan besar untuk bertemu orang-orang yang bukan mahram kita. Ah, masih susah, aku nggak betah di rumah aja, atau aku nggak bisa di rumah aja. Kalau memang kita dituntut untuk berkegiatan di luar rumah, kita bisa membawa kipas untuk menghilangkan rasa gerah, panas dan sebagainya yang muncul sebagai godaan. Apalagi yang bekerja di dalam gedung, melihat kemajuan teknologi jaman sekarang, sudah hampir semua gedung dilengkapi dengan mesin pendingin (AC) bukan ? Lalu apa lagi alasannya ?


Beralih ke poin ke 2, tentang anggapan kebebasan perempuan untuk memilih. Memangnya apa sih yang dirampas ? Apa yang dibatasi ? Apa yang dipenjara ? Kita cuma diminta untuk menutup kepala, layaknya kita menggunakan topi saat panas atau kupluk saat dingin. Dengan menggunakan kerudung bukan berarti kita nggak bisa berkegiatan seperti biasanya kok, kita masih bisa bekerja, belajar dan melaksanakan aktivitas yang biasa kita kerjakan. Jika berkerudung dianggap akan membatasi ruang gerak, maka itu salah besar, banyak wanita-wanita hebat yang berkerudung, banyak tempat-tempat usaha yang mengizinkan karyawannya untuk berkerudung, dan banyak tempat-tempat umum yang masih bisa dimasuki untuk perempuan berkerudung. Justru dengan berkerudung secara tidak langsung kita akan memfilter lingkungan yang kita tempati. Kita akan dijauhkan dengan hal-hal negatif yang bertentangan dengan agama, kita diingatkan untuk tidak mendekati larangan Tuhan dan kita dijauhkan dengan orang-orang yang memberi pengaruh buruk untuk diri kita. 

Takut dijauhi teman ? itu artinya teman yang kalian miliki bukan teman yang tulus, kalau tulus, kenapa menjauh hanya karena temannya memakai kerudung ?

Takut susah dapat pekerjaan ? Masih banyak kok tempat usaha yang mengizinkan karyawannya berkerudung, dan poin tambahannya kemungkinan besar perusahaan itu memiliki bidang usaha yang tidak menyalahi syariat, tidak bertentangan dengan agama, dengan kata lain rezeki yang kita peroleh pun insyaallah halal.


Berlanjut ke poin ketiga, kalau mau menunggu untuk memperbaiki diri baru berkerudung, menangnya ada standar seseorang itu dikatakan sudah baik atau belum ? Lagipula apa kita yakin kita masih bisa hidup sepanjang langkah kita menuju lebih baik tanpa berkerudung itu ? Siapa yang bisa menjamin ?

Sejatinya memperbaiki diri adalah aktivitas terus-menerus sepanjang hidup, nggak ada batasnya. Kalau kita mau jadi "baik" baru mau berkerudung, lalu berapa lama waktu yang kita butuhkan ? 

Memperbaiki diri itu perlu tapi berkerudung itu wajib. Memperbaiki diri itu proses perkepanjangan sedangkan berkerudung itu harus dilakukan sejak kita balig.


Untuk poin yang terlahir, mengenai statement bahwa perempuan berkerudung haruslah perempuan yang sudah baik, seakan tidak mengizinkan pemakainya untuk berbuat salah. Saat si pemakai lalai yang di judge selalu kerudungnya "udah berkerudung kok kelakuannya masih begitu" atau "inget kerudung neng"

Rasanya kata-kata itu sudah tak asing ditelinga kita. Kembali lagi ke pembahasan poin ketiga tadi, bahwa memperbaiki diri itu perlu tapi berkerudung itu wajib. Memperbaiki diri itu proses perkepanjangan sedangkan berkerudung itu harus dilakukan sejak kita balig.

Tidak ada manusia yang luput dari dosa. Namanya juga manusia, pasti tempatnya salah dan lupa. Kalau perempuan berkerudung salah ingatkan orangnya jangan salahkan kerudungnya. Sama halnya dengan orang yang berpakaian minim tapi tidak ingin sifatnya dinilai negatif dari cara mereka berpakaiannya, kalau kita bisa memaklumi hal tersebut yang dalam agama islam justru dilarang, lalu kenapa orang yang berkerudung harus dihakimi hanya karena kesalah yang mereka perbuat, seakan-akan mereka yang memakai kerudung adalah orang yang suci dan jauh dari kesalahan. Coba kita berkaca, sebenarnya kita ini siapa ? Kenapa kita sampai berhak untuk membubuhkan kalimat pedas ke orang lain ?kita punya mulut, merekapun sama. Makian dan cacian yang kita berikan, bisa saja berbalik kepada kita suatu hari nanti. Kalau sampai saat ini kita masih dilimpahi banyak nikmat, itu artinya Allah masih berbaik hati menutup aib-aib kita, menutup kesalahan yang bisa saja jika kesalahan itu terbuka maka tidak ada lagi yang mau berdekatan dengan kita.

Selain pembahasan tadi, sebenarnya ada yang tidak kalah penting tentang menggunakan kerudung. Kerudung bisa dijadikan sebagai identitas, pengenal antara muslim yang satu dengan yang lain, sebagaimana QS Al-Ahzab ayat 59 :


"Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu."


Ada juga hadist yang menerangkan tentang identitas yang harus dimiliki oleh umat Islam agar tidak menyerupai agama-agama lain, salah satunya yaitu :


“Tidaklah termasuk bagian dari kami orang yang menyerupai selain kami” (HR. At-Tirmidzi)


Sudah terlihat kegunaannya ?

Singkatnya, jika muslim satu dengan muslim yang lain bertemu maka dianjurkan untuk mengucapkan salam sedangkan dilarang untuk memberikan salam atau menjawab salam orang non muslim, nah bagaimana kita tau kalau lawan bicara kita, orang yang kita temui tadi orang muslim ? Salah satu penandanya adalah kerudung. Dibeberapa tempat tak jarang mereka mengganti salam tersebut dengan sapaan, karena apa ? Karena mereka tidak yakin bahwa orang yang mereka temui itu orang muslim. Tidak enak bukan, jika kita sebagai orang muslim dianggap non muslim hanya karena pakaian atau aksesoris yang kita gunakan tidak mencerminkan apa yang dipakai oleh keyakinan yang kita anut ?

Selain itu, berkerudung juga menggambarkan bahwa kita bahwa dengan agama kita dan juga bangga dengan keyakinan yang kita anut dengan sepenuh hati.

Yakin yang artinya sudah harus taat, taat tanpa tapi. Bukan hanya menerima hal yang sekiranya pas dengan selera, tapi menerima semua perintah tanpa alasan lainnya.

Kalau kita sudah berusaha untuk melakukan kewajiban kita semaksimal mungkin, menjalankan perinta-Nya sebisa mungkin, maka kendala yang kita hadapi tidak akan mudah menghancurkan kita, karena kita sudah memiliki tempat bersandar yang kuat, tempat berserah diri yang hebat, yang memiliki kasih sayang yang luas. Perkara omongan orang atau cobaan yang mulai berdatangan insyaallah akan menaikkan derajat kita jika kita bisa menghadapinya. Karena sejatinya kehidupan di dunia hanyalah ujian semata.


Sekian pembahasan kali ini, maaf jika ada salah kata dalam penulisan atau ada kata-kata yang menyinggung. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Wasaalamualaikum, wr, wb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beda Pilihan Bukan Alasan Untuk Saling Menyalahkan

Cita dan Bahagia