Cita dan Bahagia

 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Manusia, mahkluk yang tengah menempuh perjalanan panjang. Melintasi setiap tahap kehidupan dengan berbagai rintangan. Sebagai manusia, kita tentu sering memperhatikan sekeliling kita, bahkan tak jarang perhatian kita justru tertuju pada kehidupan orang lain yang terlihat menarik. Beberapa dari kita juga sering terperangkap dalam kata 'andai' yang menjanjikan kenyamanan semu. 

Diwaktu kita menjadi anak kecil, kehidupan orang dewasa terlihat begitu menarik, orang-orang dewasa terlihat bebas melakukan hal apapun yang mereka sukai, berbeda dengan anak kecil yang masih terpenjara dalam berbagai aturan yang diciptakan orangtua. Disisi lain, saat kita menjadi dewasa, kita justru ingin kembali ke masa-masa muda, saat kita menjadi anak-anak atau menjadi remaja karena ternyata menjadi dewasa tidak sesederhana yang kita kira.

Kenapa muncul keinginan seperti itu ? Keinginan-keinginan itu muncul sebagai respon diri kita saat tengah mengalami gejolak emosi. Saat kita sedang memikul beban berat, rasanya kita ingin kembali ke masa anak-anak yang bisa bebas berekspresi, berbas bermain dengan perhatian yang bergelimpangan. Saat kita merasa sedih, kita ingin kembali ke masa remaja, di mana saat itu kita memiliki banyak teman berbagi keluh kesah dan juga saling memupuk harapan.

Pernah tidak kita berpikir, kalau hal tersebut terjadi karena kita sudah melewati masa tadi ? Karena kita menganggap apa yang pernah kita alami sebagai fase-fase yang cukup mudah untuk kita lalui, sehingga kita merasa nyaman berada di fase itu. Kita sudah mampu melewati fase anak-anak dengan berbagai aturan yang harus kita ikuti. Kita sudah melewati fase remaja dengan hiruk-pikuk pelajar sekolah dan kisah romansa. Namun, berbeda dengan fase yang sedang kita hadapi saat ini. Di fase yang tengah kita jalani saat ini, kita masih belum tau kejutan apa yang akan kita dapatkan.

Di fase ini, kita masih harus berjuang menggapai cita-cita yang sudah kita lukis diwaktu kecil. Di fase ini, kita tengah tengah berjuang untuk membuat orang-orang terpenting dalam hidup kita bangga. Bahkan sering kali, kita tidak sadar bahwa kita juga butuh memperjuangkan kebahagiaan diri sendiri.

Dalam sibuknya pertukaran waktu dimasa dewasa, tanpa sadar kita sering mengesampingkan diri kita untuk memberi makan ego kita. Saat merasa lelah, kita bilang 'sebentar, masih ada tugas yang harus diselesaikan'. Disaat merasa jenuh, kita bilang 'tunggu dulu, rutinitasmu masih banyak yang menunggu'. Disaat merintih sakit, kita bilang 'jangan sekarang, masih banyak mimpi yang belum terselesaikan'.

Sadar atau tidak, kita sering kali mengabaikan diri kita sendiri. Tubuh yang selama ini menemani pertumbuhan kita hingga di fase ini, menjadi saksi betapa kejamnya kita memperlakukannya. Ruh yang menemani kita sejak bersama ari-ari, menjadi saksi betapa otoriternya kita dalam memaksa.

Lantas, apa yang harus kita lakukan ? Bagaimana cara kita bisa berbuat adil dengan diri sendiri dan mimpi-mimpi yang disisipi ego untuk diwujudkan ? Pernahkah kita berbicara dengan diri sendiri, menanyakan apa yang sebenarnya kita butuhkan saat ini, bukan hanya mengejar apa yang ingin kita dapatkan dimasa depan ?

Cobalah sesekali kalian duduk, mungkin berbaring juga tidak masalah. Carilah posisi ternyaman untuk kita, perlahan tutuplah kedua mata, berdoa dalam hati, lalu coba tanyakan pada diri sendiri apakah yang sedang kita butuhkan saat ini ? Minta maaflah karena selama ini sering menyakiti, berterima kasihlah karena selama ini sudah setia menemani. Dengarkanlah rintihan dan opini mereka yang selama ini tak pernah kita tanggapi.

Menjadi dewasa artinya siap memikul beban kehidupan dengan rintangan yang terjal, tapi akan lebih mudah jika kita bekerjasama dengan diri sendiri untuk menggapai tujuan yang kita ingini. Menjadi dewasa bukan berarti hanya berorientasi pada mimpi, karena kita juga harus bisa menciptakan kebahagiaan diri sendiri. Disaat cita-cita kita berjuang kan, maka kebahagiaan juga harus tetap kita semaikan.


Jangan lupa untuk mencintai diri sendiri

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beda Pilihan Bukan Alasan Untuk Saling Menyalahkan

Identitas yang Disalahartikan