Gimana sih kok bisa pinter ?

 Assalamualaikum, pada kesempatan kali ini saya ingin membahas tentang kepintaran. Mengingat banyaknya pertanyaan yang sering saya temui dikehidupan sehari-hari, meskipun bukan semuanya tertuju kepada saya tentunya.

Rasanya sudah tidak asing lagi dengan pertanyaan "kok bisa pinter gitu sih ?", "Apa rahasianya biar bisa pinter ?" atau "gimana sih kok bisa pinter ?". Menanggapi banyaknya pertanyaan diatas yang sering bertebaran baik di dunia nyata maupun dunia maya, membuat saya tergugah untuk membahas topik ini.

Pintar sendiri dikbbi dapat diartikan sebagai "pandai, cakap, cerdik, banyak akal, mahir (melakukan atau mengerjakan sesuatu)". Nah kalau saya pribadi ditanya gimana biar bisa jadi orang pintar ? Rasanya saya tidak bisa menjawabnya dengan lantang, kenapa ? Karena menurut saya pintar adalah sebuah hasil, sedangkan penentu sebuah hasil adalah Allah Yang Mahakuasa. Sekuat apapun berusaha kalau Tuhan bilang belum saatnya ya tetep aja nggak bisa.

Teringat kejadian beberapa tahun yang lalu, tepatnya saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. 6 tahun saya menempuh pendidikan dengan teman sekelas tidak lebih dari 25 orang, tapi nyatanya sekuat apapun saya berusaha, apapun proses yang sudah saya lakukan, mulai dari belajar di rumah teman yang selalu mendapat peringkat satu dikelas tiap tahunnya, mengulang kembali pelajaran di rumah, dll. Nyatanya hal-hal tadi tidak membuat saya masuk rangking 5 besar dikelas juga.

Kisah diatas membuat saya sadar, bahwa sejatinya pintar itu tergantung keputusan yang diatas, sekuat kita berusaha kalau Tuhan masih berkata belum, artinya kita masih belum diizinkan untuk mencapai titik itu. Namun, bukan berati kita lantas berputus asa, yang udah usaha keras aja masih belum bisa mendapatkan hasil yang maksimal, apalagi sampai berhenti berusaha ? Apa yang mau kita harapkan ? Yang berusaha aja belum tentu berhasi, bukan ?

Berlanjut ke SMP saya mulai menemukan cara belajar yang pas untuk diri saya, begitupun dengan lingkungan pertemanan yang lebih baik dari waktu saya SD dulu. Hal tersebut membuat saya bisa meraih rangking 3 saat kelas VII dan rangking 2 saat kelas VIII. Apa itu sudah membuat saya dikategorikan sebagai orang pintar ? Belum tentu, nyatanya saat kelas IX saya kembali tidak masuk 10 besar peringkat kelas. Hal tersebut terulang kembali saat SMA, kelas X dan XI saya mendapat peringkat 3, sedangkan dikelas XII saya tidak masuk 3 besar peringkat kelas. Lagi-lagi saya bertanya, masih pantas saya disebut orang pintar ? Ah, rasanya terlalu berlebihan.

Kembali lagi ke pembahasan pintar yang tadi. Mungkin kalau tips belajar sudah banyak yang share baik dari mulut ke mulut maupun secara online, tapi kalau tips pintar sepertinya saya belum pernah mambacanya,  atau mungkin karena saya belum banyak keyword googlingnya ? Entahlah, yang pasti mau seberapa sama kita meniru tips untuk menjadi pintar tersebut (kalau memang ada yang buat) belum tentu kita akan mendapatkan output yang sama. Menurut saya sendiri, yang harus dicapai dari sebuah pembelajaran itu bukan perkara pintar, tapi memahami apa yang kita pelajari. Kalau kita paham dengan apa yang kita pelajari, secara nggak langsung perlahan-lahan kita akan sampai ke kata "pintar" yang sering dipertanyakan itu, selain itu pola pikir kita juga akan terbentuk dari proses tadi.

Lagi pula ada yang bisa mengalahkan kata "pintar" itu sendiri, yaitu kata "beruntung". Orang pintar kalah dengan orang beruntung, betul. Orang pintar nggak selalu beruntung, tapi orang beruntung memiliki kemungkinan besar untuk dinilai orang lain sebagai orang "pintar". Contohnya : si A adalah murid pintar di SMA X, dia sudah biasa mewakili OSN sekolahnya, tapi saat mengikuti tes SBMPTN di universitas Y, si A dinyatakan gagal karena pendaftar universitas Y memiliki nilai yang lebih tinggi darinya. Sedangkan si B, dia murid yang biasa-biasa, tidak pernah mengikuti OSN, PR pun sering mencontek temannya, tapi justru si B ini yang lolos tes tersebut, si B bisa masuk ke universitas yang si A tadi gagal memasukinya. Aneh ? Bisa jadi, tapi itu dinamakan keberuntungan, bukannya setiap manusia hanya bisa berusaha, perkara hasil itu terserah Allah SWT kan ?

Sebenarnya kisah diatas mirip dengan kisah yang pernah saya alami, tapi saya bukanlah si A, si anak pintar yang menjadi perwakilan OSN sekolahnya. Namun, memang ada teman saya yang mirip dengan karakter si B tadi, dan Alhamdulillahnya dia lolos salah satu universitas negeri terbaik di Indonesia dengan jalur SBMPTN. Saya sangat salut dengan pencapaiannya, meskipun banyak yang memandang dia sebelah mata, tapi dia dapat membuktikan bahwa dirinya bisa.

Bukan saya menganggap teman saya itu bodoh, bukan, tidak sama sekali, dia masih dikategorikan wajar kok sebagai anak laki-laki SMA. Apalagi menganggap diri saya lebih pintar darinya, sama sekali bukan, karena yang saya yakini sampai saat ini adalah tidak ada yang namanya orang bodoh, yang ada hanya orang yang membutuhkan effort lebih banyak untuk bisa memahami sesuatu. Effort itu bisa berupa waktu, uang, tenaga atau ruang, tergantung pribadi orang yang bersangkutan. Dosen saya pernah berkata ditengah-tengah sesi mengajar, "bisa jadi semua ilmu pengetahuan itu sudah tersaji didunia ini, terus kita tinggal nyari kucinya agar bisa mengusai ilmu tersebut".

Terus apa dong yang harus ditanyakan ? Kalau mau jadi orang beruntung ya lebih sering mendekatkan diri dengan sang pencipta, taati aturan-Nya, dan jauhi larangan-Nya. Kalau mau pintar ? Ya harus siap berusaha ? Macam-macam usaha yang bisa dilakukan apa saja ? Banyak, salah satunya berdoa, belajar, meminta doa orangtua dan menemukan lingkungan yang sesuai.

Dari hal diatas bisa dipecah lagi menjadi beberapa pertanyaan, gimana caranya berdoa ? gimana caranya belajar ? gimana caranya minta doa ke orangtua ? gimana cara nyari lingkungan yang sesuai sih ?

Semua pertanyaan diatas akan saya bahas satu-satu dengan singkat menurut pandangan saya.

Pertama, cara berdoa yang baik adalah dengan bersungguh-sungguh, khusyuk, bener-bener minta seakan kita orang yang nggak punya apa-apa, karena sejatinya kita memang nggak punya apa-apa di dunia ini. Namun, tidak terkesan memaksa.

Cara belajar yang baik adalah bagaimana kita bisa memahami materi dengan mudah. Tiap orang caranya beda-beda. Ada yang harus dengan mendengarkan musik baru bisa belajar, ada yang membutuhkan lingkungan sepi agar bisa belajar, dan ada pula yang harus belajar kelompok biar bisa lebih paham. Ingat, mudah bukan berarti cepat, ada yang butuh waktu 1 jam untuk memahami materi, tapi harus manjat pohon dulu baru bisa belajar. Ada yang butuh waktu 2 jam baru bisa memahami materi di rumah. Ada yang membutuhkan waktu 30 menit, tapi harus ditemani guru les. Setiap orang memiliki standar masing-masing terkait kata "mudah" di sini.

Lanjut ke cara minta doa keorangtua, simplenya sih bilang ke mereka kalau kita mau dioain A,B,C,D,E. Meskipun tanpa diminta bisanya mereka juga akan mendoakan kita. Tapi percaya deh, kalau kita mau minta doa ke mereka, mereka justru akan merasa senang karena putra-putrinya mengingat mereka, mengingat kekuatan ridho dan doa mereka. Kalau saya dari dulu sudah diajarkan untuk mencium tangan orangtua saat akan pergi atau pulang dari suatu tempat, rasanya tuh kayak ada semangat dan dukungan yang besar untuk mencapai sesuatu kalau kita salaman dulu waktu mau keluar rumah. Begitu juga saat pulang, rasanya selalu ada tempat bersandar ternyaman yang siap melindungi dari setiap masalah yang saya dapatkan di luar sana.

Terakhir, membahas lingkungan yang sesuai itu seperti apa ? Lingkungan yang sesuai itu adalah lingkungan yang mampu membuatmu berkembang bukan malah membuatmu tumbang. Lingkungan yang bisa menghargai apa adanya diri kita, yang bisa menjadi pendukung sekaligus pelipur disaat kita lara. Nggak gampang dicari memang, tapi kalau kita sudah menemukannya, masyaallah sekali rasanya.

Jadi kesimpulannya, saya cuma mau bilang kalau menjawab bagaimana alasan seseorang itu bisa pintar, mungkin bisa ditanyakan langsung ke Tuhan semesta alam, paling banter nanya ke orang ya dikasih tips-tips prosesnya, bukan jadi "pintar"-nya. Karena mereka pun nggak bisa jamin kalau kita mengikuti tips-tips tersebut kita bisa jadi auto "pintar". Lagi pula kalau mengikuti arti dikbbi tadi, rasanya setiap orang memiliki penilaian yang berbeda-beda terkait kata pitar. Meskipun di negara ini standar penilaian kepintaran seseorang didominasi dengan parameter "jago hitung-hitungan, terkhusus matematika". Namun, jangan lupa kalau nggak ada manusia yang sempurna, semua punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Yang jago hitung-hitungan belum tentu pandai dalam hafalan, begitun yang jago hafalan belum tentu pandai bermacam bahasa dll.

Untuk kita yang masih bertahan sampai saat ini dalam berusaha keras menemukan cara agar bisa memahami materi dengan mudah, untuk kita yang belum menyerah meskipun banyak kegagalan menyapa, untuk kita yang terus berjuang meskipun banyak cibiran. Kita hebat, selamat dan terima kasih sudah berusaha sampai sejauh ini. Semua layak untuk diapresiasi, dan ingatlah perjuangan kita belum berhenti hingga mati.

Wassalamualaikum wr wb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beda Pilihan Bukan Alasan Untuk Saling Menyalahkan

Cita dan Bahagia

Identitas yang Disalahartikan