Its ok to be not ok

 Assalamualaikum,


Halo, apa kabar ?

Pertanyaan simpel yang sering ditanyakan untuk orang-orang yang baru bertemu atau sudah lama tidak bertemu. Pertanyaan yang biasanya digunakan sebagai pembuka topik lainnya yang lebih intim. Tapi, coba kita cermati lagi pertanyaannya. Untuk menjawab pertanyaan apa kabar, kebanyakan orang tak butuh waktu lama untuk menjawab "baik". Apa benar kita selalu baik setiap harinya ? Atau kita hanya berusaha terlihat baik setiap harinya ?


Pertanyaan apa kabar menurut saya adalah pertanyaan yang umum, tergantung konteks mau ditujukan ke mana. Kalau ditanya soal fisik, bisa dengan mudah kita menjawab, karena kita bisa melihatnya secara langsung. Tapi, kalau sudah berkaitan dengan jiwa dan perasaan, biasanya kita butuh waktu untuk berpikir sejenak. Mungkin untuk mencari alasan agar terlihat baik-baik saja karena hal tertentu atau memang kita perlu mengonfirmasi apa diri kita memang sedang baik-baik saja saat itu.


Sebagai manusia tentunya kita dihadapkan dengan banyak pilihan, banyak ujian, banyak masalah dan banyak cobaan. Wajar kalau kita merasa tidak sedang baik-baik saja. Wajar kalau salah satu hal yang kita hadapi membuat kita terluka. Semuanya wajar untuk dirasakan, semua punya kebebasan untuk dirasakan. Ada sebuah kutipan yang mengatakan "kalau kita tidak bisa menangis dengan sungguh-sungguh, bagaima kita bisa tertawa dengan sungguh-sungguh juga ?"

Kalau kita nggak pernah ngerasain apa yang namanya sakit, kita nggak akan pernah ngerasain betapa nikmatnya kesembuhan. Kalau kita nggak pernah merasa terpuruk, kita nggak akan tau gimana susahnya berjuang untuk bangkit dan riangnya kembali melangkah. Kalau kita belum pernah merasakan macam-macam gejolak emosi, gimana caranya kita bisa menarik kesimpulan bahwa kita menyukai emosi tertentu yang kita rasakan ?


Selama ini kita terlalu sering memasang wajah ceria, berpura-pura terlihat baik-baik saja, mencoba menyamai kehebatan aktor aktris diluar sana. Pada akhirnya kita hanya bisa jujur saat sudah sendiri, duduk atau bersandar ditemani dinding kamar yang sunyi. Barulah kita bisa melepas topeng yang mengikuti kita setiap hari. Barulah kita bisa sampai tersendu-sendu, kadang begitu kita masih harus membekap mulut untuk menakan tangis yang sudah mati-matian kita ajak sembunyi.

Standar yang digantungkan kepada orang dewasa atau beranjak dewasa memang berat. Mereka dituntut untuk pandai mengendalikan emosi, yang dengan kata lain lebih merujuk pada menampilkan ekspresi bahwa mereka selalu baik-baik saja. Mereka dituntut untuk menekan amarah saat ingin marah, dituntut untuk tegar saat ingin menangis, dan dituntut untuk terlihat biasa saat sedang kecewa. Kejam memang, padahal Tuhan sudah menganugerahkan kepada setiap orang yang namanya "perasaan". Apa gunanya perasaan kalau yang boleh kita tunjukkan hanya kesenangan saja ?


Coba renungkan sejenak, kapan terakhir kali kita jujur pada diri sendiri ? Bukan menunggu diri ini sudah tidak kuat lagi sampai harus menarik dan mengurung diri. Kapan berakhir kali kita mengobati luka-luka hasil perjuangan kita sampai dititik ini ? Kapan terakhir kita mendengarkan diri yang sudah mau menjadi sahabat kita sejak kita berteman dengan ari-ari ?

Sadar atau tidak setiap perubahan emosi yang kita pendam akan meninggalkan beban untuk diri ini. Kesedihan kecil yang terus-menerus kita tutupi bisa mengendap menjadi kesedihan hebat yang bisa menghanyutkan. Rasa jenuh yang terus-menerus kita abai bisa mengganggu aktivitas fisik yang kita lakukan. Rasa kecewa yang coba kita sembunyikan bisa membuat kita mengasingkan diri dan sulit mempercayai orang lain lagi. Lalu apa yang bisa kita lakukan saat semua sudah terjadi?


Its ok to be not ok. Nggak papa kalau kita merasa sedang tidak baik-baik saja adalah satu hal penting yang harus kita sadari sebagai manusia. Selanjutnya kita harus mau mengaku, mau jujur, kadang kita malu untuk mengungkapkan bahwa kita butuh tempat untuk bersandar, saat dinding kamar tak lagi mampu membuat kita nyaman, kita malu bilang kalau kita butuh teman, butuh partner untuk bertukar cerita dan memberi solusi. Saat dinding kamar sudah tak mampu lagi menopang semua emosi yang terus-menerus kita tunjukkan, tidak ada pilihan lagi untuk mengelak. Ya, mengaku adalah jalan terbaik yang bisa kita pilih. Ingatlah semua yang kamu alami itu wajar dan bisa dialami oleh orang lain juga.


Menunjukkan air mata keorang lain nggak selalu dianggap cengeng kok, karena faktanya memang ada beberapa hal yang menuntut kita untuk mengeluarkan air mata dari tempatnya, tidak peduli itu laki-laki atau perempuan, tidak peduli anak-anak atau orang tua. Lalu, ada kalanya kita harus menunjukkan bahwa kita sedang marah, dan itu tidak salah, kita bisa bilang kalau kita nggak suka dengan suatu hal, meskipun kita kembali harus menahan kata-kata kasar atau respon fisik yang ingin kita berikan. Setidaknya kita sudah berani menunjukkan apa yang kita rasa, bahkan kita juga bisa menasihati orang lain saat berbuat salah dengan menunjukkan emosi yang sedang kita rasakan.


Jangan sampai sesuatu yang kita sembunyikan untuk memenuhi ekspektasi orang lain atau untuk menjaga perasaan orang lain justru akan melukai diri sendiri. Percayalah saat kita merasa sendiri masih ada Tuhan dan diri yang selalu ada menemani kita. Saat kita butuh pelarian atau ketenangan mereka tidak pernah meninggalkan. Sudah cukup berpura-pura, aktor dan aktris ternama pun punya waktu istirahatnya masing-masing.


Jangan pernah merasa sendiri, meskipun memang hanya tersisa diri sendiri. Bersama diri sendiri kita masih bisa menjelaji bumi, masih bisa berkeliling kota lalu berteriak lantang menguapkan emosi yang sudah memenuhi hati. Bersama diri sendiri kita tidak perlu memasang topeng yang entah sejak kapan kita miliki. Bersama diri sendiri kita masih bisa menikmati hal-hal mengasikkan dari pada sibuk mengeluhkan. Dan, yang pasti bersama diri sendiri kita tidak pernah merasa dihianati.


Terima kasih Tuhan dan Diri yang sudah menemani sejak masih bersama ari-ari.

Wassalamualaikum wr wb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beda Pilihan Bukan Alasan Untuk Saling Menyalahkan

Cita dan Bahagia

Identitas yang Disalahartikan