Renungan Diawal Bulan Agustus

    Banyak banget kejadian dimasa kecil yang kalau diingat-ingat itu justru bikin haru.

    Dulu disaat kecil, waktu lagi marah atau marahan sama orang tua entah karena dilarang A B C atau ada perbuatan mereka yang kurang sesuai menurut diri sendiri, pasti nggak lama kemudian ada kejadian yang bikin ngerasa nyesel setelahnya.

    Entah diperjalanan berangkat ngaji, diperempatan deket rumah, tabrakan sama motor karena ngedumel nggak jelas dan berujung nggak konsen merhatiin jalan. Abis itu langsung kepikiran, kalau seandainya tadi nggak selamat bakal kayak gimana? Berasa semua pertengkaran sama orang tua itu kayak film yang diputar tepat didepan mata, dan saat itu baru kerasa penyesalannya. Atau tiba-tiba ngeliat bapak-bapak yang lagi dorong sepedanya buat ngangkut gabah, terus diatas gabahnya itu ada anaknya yang lagi duduk kesenengan, sementara sang bapak bermandikan keringat, kecapekan.

    Belum lagi ada ibu-ibu yang ke sana- kemari ngebujuk anaknya agar mau disuapi, padahal ibu itu baru pulang dari sawah dengan kaki telanjang yang dipenuh tempelan debu-debu jerami. Meski belum sempat ganti baju, lengan bajunya yang kotor sengaja disingkapkan sampai kesiku, agar makanan anaknya nggak ikutan kotor juga.

    Kenapa waktu kecil bisa semudah itu memaafkan kesalahan, bahkan tanpa pihak yang berkaitan meminta maaf lebih dulu?

    Secara nggak sadar, Tuhan selalu ngasih jalan untuk menjadi pemaaf dengan mudah. Langsung ngasih liat didepan mata, kalau apa yang dilakuin sebagai seorang anak itu salah. Terlepas siapa yang sebenarnya memang bersalah.

    Kenapa saat beranjak dewasa seakan semua merumit. Rasa marah, kecewa, atau pun sedih sengaja dipendam sendiri. Sebagiannya mungkin akan luruh saat bersimpuh diidul fitri yang hanya setahun sekali. Tapi sisanya masih mengendap, menanti kapan waktu yang tepat untuk meledak.

    Rutinitas mengobrol bersama terasa begitu engan dilakukan. Padahal waktu kecil, banyak cerita yang selalu asik didongengkan. Rasanya tidak bertukar cerita sehari saja, pasti ada yang kurang.

    Ternyata semakin sedikit waktu yang dimiliki untuk berkumpul bersama keluarga berpengaruh sebesar itu untuk keterbukaan setiap anggotanya. Padatnya aktivitas memaksa kesalahpahaman bertransformasi menjadi jarak. Rasa lelah sekan membungkam pendapat-pendapat yang ingin diutarakan saat ketidak sesuaian muncul didepan mata. Kecilnya skala pertemuan membuat pihak-pihak merasa mereka sudah paling tahu akan pribadi satu sama lain, sehingga kerap kali mengabaikan persetujuan pihak lain.

    Meski sejatinya mereka tetaplah orang yang sama. Tinggal dijiwa yang sama. Hanya keadaan yang seakan membuat mereka terasa berbeda. Contohnya, saat dewasa menangis seperti hal memalukan yang patut untuk disembunyikan. Tidak seperti diwaktu kecil, dimana kita bebas mengekspresikan rasa yang sedang bergejolak dihati. Menangis didepan umum tidak papa, bahkan nantinya akan dibujuk agar tangisnya reda. Bukannya dilempari kata-kata sarkas sebagai penenangnya.

    Rasanya masa-masa kecil itu begitu indah. Sayangnya banyak banget anak-anak yang ingin cepat dewasa dengan iming-iming kebebasan. Padahal perlakuan yang diberikan saat itu adalah simbol kepedulian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beda Pilihan Bukan Alasan Untuk Saling Menyalahkan

Cita dan Bahagia

Identitas yang Disalahartikan