Setiap Orangtua Dulunya Juga Seorang Anak
Pernah dengar kalimat, "tidak ada sekolah yang mengajarkan bagaiamana cara menjadi orangtua yang baik." Salah satu kalimat popular yang seringkali dikambinghitamkan kala orangtua sedang dipuncak egonya atau enggan mengakui kesalahan yang sudah mereka lakukan.
Berangkat dari kehidupan sehari-hari dan berbagai sumber yang saya baca mau pun saya tonton. Saya menemukan sebuah kutipan menarik yang berbunyi,
"Setiap orangtua juga dulunya seorang anak yang mengalami trauma karena orangtuanya."
"Seorang anak kecil itu otaknya masih berkembang dan masih dalam proses belajar untuk mengenal dirinya sendiri, mereka butuh tangan yang dapat membantunya berpijak dan orangtua tugasnya adalah membantu mereka berpegangan. Jika orangtua belum bisa mengenali emosinya sendiri, bagaimana dengan anak-anak? Dari mana mereka bisa paham dengan emosinya?" - Novel Goodbye Daniel
Menjadi orangtua memang sebuah perjalanan dan pembelajaran yang panjang. Butuh kesabaran yang besar. Butuh kelapangan hati yang lebar. Namun, kebanyakan pola didik orangtua dimasa depan adalah pola didik yang mereka contoh dari orangtuanya dimasa lalu atau pola didik yang selama ini mereka lihat dari lingkungan sekitar. Entah secara sadar atau tidak, sebagian besar dari mereka akan meperlakukan anaknya sebagaimana mereka diperlakukan dulu. Mengesampingkan bagaimana tidak sukanya mereka dulu saat diperlakukan seperti itu.
Seorang anak dituntut memuaskan keinginan orangtua yang belum tercapai. Dituntut untuk menjadi yang terbaik, tidak peduli kapasitas yang dimili oleh anak yang berbeda-beda. Ya, meski tidak semua orangtua begitu. Namun, ternyata tinggal sejak bayi bersama orangtua, tidak menjamin bahwa mereka akan menerima kekurangan dan kelebihan anaknya sepenuhnya. Rasanya, memiliki orangtua yang tidak banyak menuntut adalah sebuah anugerah yang sangat patut untuk disyukuri.
Sama halnya dengan orangtua yang mengatakan bahwa mereka tidak pernah mendapatkan pelajaran bagaimana menjadi orangtua yang baik. Seorang anak pun begitu. Sebelum lahir ke dunia, seorang anak tidak memiliki pengetahuan bagaimana menjadi seorang anak yang baik. Justru seiring bertambahnya usia lah, yang membuat mereka belajar bagaimana menjadi seorang anak yang baik. Yang mana, hal tersebut tidak luput dari peran orangtua yang harus bisa mengarahkan mereka, yang harusnya dengan pengarahan yang baik pula, bukan dengan luapan emosi apalagi sampai menggunakan serangan fisik.
Anak bukan seorang badut yang bisa kita pamerkan saat memiliki prestasi yang cemerlang. Ya, bangga akan prestasi anak memang hal yang lumrah, tapi jangan terlalu berlebihan, yang nantinya justru menimbulkan rasa tidak nyaman pada anak, atau jutru memupuk rasa sombong pada diri anak.
Anak bukan sebuah barang antik, yang semua biaya perawatan yang diberikan mengharap imbalan, agar tidak terbuang sia-sia. Yang anak butuhkan adalah kasih sayang yang tulus, bukan sebuah tuntutan yang tiada putus. Yang anak butuhkan adalah contoh, bukan hanya perintah yang mereka sendiri tidak pernah melihat kedua orangtuanya melakukannya.
Anak adalah seorang manusia, yang sama-sama ingin dihargai. Jika orangtua ingin dihormati anak-anaknya, maka mereka juga harus menghormati anak-anaknya. Jika orangtua ingin disayangi anak-anaknya, maka mereka juga harus menyayangi anak-anaknya. Jika orangtua mendambakan ketulusan dari anak-anaknya, maka mereka juga harus bisa mengajarkan ketulusan itu kepada mereka.
Anak yang lelah setelah seharian bersekolah, butuh didengar keluh kesahnya. Bukan hanya disuruh belajar lagi waktu sampai di rumah. Anak yang nilainya menurun, butuh ditanya kendala apa yang menghambat mereka. Bukan malah dihujani kata-kata yang semakin menyudutkan dan mengikis rasa percaya diri mereka. Karena satu-satunya rumah, tempat yang harusnya menghadirkan rasa nyaman untuk anak adalah kedua orangtua. Jangan sampai anak lebih terbuka kepada teman-temannya daripada orangtua mereka sendiri.
Jangan sampai hubungan darah atara orangtua dan anak yang lebih kental dari air, justru merenggang karena perilaku yang kurang tepat, kurangnya komunikasi, atau kesalahan dalam menyampaikan sebuah pendapat. Hal yang perlu diingat yaitu, anak adalah cerminan kedua orangtuanya. Perlakukan anak sebagaimana orangtua ingin diperlakukan. Tidak ada yang namanya orangtua selalu benar, karena setiap manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Jadilah orangtua yang peka terhadap kondisi anak, yang menjadi pendukung nomor satu saat mereka sedang terpuruk agar bisa kembali bangkit. Dukung dan arahkan anak-anak pada hal-hal yang baik, sebelum mereka mencari dukungan diluar, yang memiliki kemungkinan besar untuk menyimpang.
Komentar
Posting Komentar