Berartinya Diri Sendiri
Sebagai seorang manusia, Allah telah menciptakan kita menjadi mahkluk yang paling sempurna. Memiliki akal untuk menjalankan kehidupan, juga nafsu yang mendorong kita dalam melakukan perbuatan.
Seiring berjalannya waktu, semakin bertambahnya usia, setiap manusia akan berada dalam persimpangan hidupnya. Memunculkan beragam pertanyaan rumit yang belum diketahui jawabannya. Saat kecil kita ingin cepat menjadi dewasa, dengan dalih bahwa orang dewasa bebas untuk melakukan apapun yang dia suka. Namun, nyatanya menjadi dewasa tidak sesederhana bayangan kita diwaktu kecil. Banyak turunan dan tanjakan kehidupan yang harus kita lalui saat berada dititik itu.
Katanya dewasa itu tidak memulu soal umur, ada yang bilang dewasa itu soal sikap. Terlepas dari keduanya, setiap manusia akan merasakan part menjadi dewasa dikehidupannya. Siap atau tidak, kita harus berada dititik itu. Permasalahan hidup yang semakin kompleks juga akan setia mengiringi kita, hingga akhirnya terbesit sebuah pikiran untuk MENYERAH.
Terbesitnya kata menyerah tidak menandakan bahwa diri kita lemah. Namun, terbesitnya kata menyerah juga bukan tanda bahwa masalah hidup kitalah yang paling susah. Hal tersebut hanya sebuah respon tubuh kita akan beberapa masalah yang datang secara bersama-sama, menandakan bahwa diri kita butuh untuk beristirahat sejenak.
Lalu, istirahat apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus berbagi dengan orang lain, agar beban yang kita rasakan sedikit berkurang? Syukur-syukur orang tersebut bisa memberikan solusi? Atau kita hanya perlu menyediri, berdialog dengan diri sendiri untuk menelaah apa yang sedang terjadi?
Seseorang yang paling tahu tentang jawaban apa yang paling tepat adalah diri kita sendiri.
Dengan berbagi kepada orang lain memang akan membuat perasaan kita sedikit lega. Namun perlu diingat, bahwa pada dasarnya setiap manusia itu hanya bisa merasakan sesuai dengan apa yang sudah pernah mereka alami.
Kata orang, rasa sakit saat disuntik itu sama dengan rasa sakit saat digigit semut. Benarkah begitu? Saya rasa tidak, keduanya berbeda. Digigit semut sering kali meninggalkan rasa gatal, sedangkan disuntik tidak. Ya, meskipun keduanya sama-sama meninggalkan rasa sakit, hanya saja porsinya berbeda.
Apa hubungannya pernyataan tadi ?
Hubungannya adalah, saat kita menarik orang lain dalam masalah yang kita hadapi, sering kali kita akan menjumpai penyataan "aku mengerti apa yang sedang kamu rasakan?" Kita akan menjumpai rasa empati orang lain ketika melihat manusia lainnya dilanda kesusahan?
Lalu, apa mereka benar-benar merasakan hal yang sama? Atau justru mereka hanya menjadikan kalimat tersebut sebagai penenang semata? Atau lebih sadisnya mereka malah menjadikan masalahmu sebagai perbandingan dengan masalah yang tengah mereka hadapi?
Pikiran manusia itu lebih dalam dari air laut dan tidak terukur. Dibalik kokohnya tulang tengkorak, terdapat aliran-aliran rumit yang dapat menghasilkan sebuah gagasan. Bukannya hendak berburuk sangka, tapi kita memang butuh waspada agar disaat kita lemah, kita tidak dengan mudah ditumbangkan.
Kembali ke empati. Sebenarnya, mereka yang berempati akan membandingkan rasa sakit yang kamu rasakan dengan rasa sakit yang sekiranya seimbang yang pernah mereka rasakan. Namun, apakah sama rasa sakit saat anggota tubuh kita terkilir dengan rasa sakit saat bagian tubuh kita terjepit?
Jawabannya tidak. Mungkin mereka merasakan kesedihan juga, mereka mampu memposisikan dirinya pada dirimu saat ini. Namun, mereka tidak bisa merasakan hal yang sama dengan yang kamu rasakan saat ini.
Selalu, hanya diri kita yang mengerti seperti apa kondisi kita saat ini. Meski begitu, hal itu tidak menandakan bahwa kita sepenuhnya sendiri. Masih ada Tuhan, sang pencipta skenario terbaik untuk semesta. Masih ada orang tua, yang tidak akan ada habisnya menghujani kasih sayang dan mengalirkan empatinya. Masih beberapa teman, yang benar-benar tulus mendampingi kita, meski kita harus berusaha keras untuk memilahnya.
Kita boleh percaya dengan orang lain. Kita boleh butuh untuk didengar, tapi hanya Tuhan dan diri kita sendirilah yang tahu, kapan waktu yang tepat untuk memulai dan berhenti. Kapan waktu yang tepat untuk bertahan, menjajaki proses panjang dan merelakan.
Kita memang butuh berjuang untuk mencapai sebuah tujuan, tapi ingatlah bahwa sesuatu yang ditakdirkan untukmu tidak akan pernah melewatkanmu, dan sesuatu yang tidak ditakdirkan untukmu, sekeras apapun kamu mengejarnya, dia tidak akan pernah menjadi milikmu.
Komentar
Posting Komentar