Menghargai Keberadaan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Untukmengawali bulan November ini, saya ingin membahas tentang menghargai keberadaan.


Menanggapi beberapa celetukan "caper" atau "attention seeker" yang sering beredar dikalangan masyarakat saat ini, yang cenderung untuk ditujukan ke suatu gender yaitu "perempuan" menggugah saya untuk menulis tulisan ini, bukan untuk membantah atau membenarkan, tapi sebagai ulasan yang sering saya temui sehari-hari. 


Caper atau attention seeker adalah bentuk ekspresi seseorang yang ingin keberadaannya diakui. Banyak hal yang bisa melatarbelakangi perilaku tersebut tentunya, dan kembali lagi kita tidak bisa melihat hanya dari satu sisi saja untuk menyikapinya. Kita tidak bisa langsung menghakimi bahwa hal itu termasuk hal negatif tanpa mengetahui penyebabnya.


Kenapa perhatian harus dicari ? Karena mereka ingin diakui, mereka ingin keberadaannya dihargai, atau mereka ingin mendapatkan perhatian yang lebih. Mungkin saya selama ini suda banyak yang mereka korbankan, tapi semua pengorbanan itu tidak mendapat apresiasi dari orang-orang disekitarnya. Mungkin lebih parahnya mereka sudah berkorban, tapi justru orang lain yang mendapat pujian dari hal yang mereka korbankan. Mungkin juga mereka sedang mendamba perhatian orang-orang disekitar, mengharap kehangatan dan kasih sayang yang salama ini hanya sedikit mereka rasakan.


Sebenarnya setiap individu didunia ini sudah memiliki peran masing-masing. Mereka sudah ditakdirkan untuk memiliki posisinya sendiri-sendiri, hanya saja penghargaan manusia akan posisi yang satu dan yang lain berbeda-beda. Misalnya dalam pembuatan sebuah film, editor akan berada dibelakang layar dan tidak begitu dikenal seperti aktris, aktor dan sutradara. Meskipun demikian, bukan berarti peran editor itu tidak penting, bayangkan kalau tidak ada sosok editor, akan seperti apa film yang sedang dikerjakan oleh sutradara ? Siapa yang akan menyunting setiap penggalan adegan dalam cerita hingga membuat satu kesatuan cerita yang utuh ?


Melihat hal tersebut, tentunya kita bisa tau, bahwa sebuah keberadaan bukan tentang siapa orangnya, tapi tentang bagaimana perannya. Bukan tentang apa gendernya, tapi bagaimana lingkungan sekitar menghargai mereka. Saya rasa tidak ada manusia si dunia ini yang mau keberadaannya tidak diakui, tak dihiraukan dan tak dipedulikan. Baik laki-laki maupun perempuan, pasti memiliki keinginan yang sama, ingin adanya mereka dihargai, disadari dan diapresiasi. Namun, sayangnya tidak semua orang sadar akan hal itu.


Contoh kecilnya dalam sebuah acara organisasi. Ketua pelaksana, bendahara dan sekretaris akan lebih dieluh-eluhkan keberadaannya daripada seksi logistik. Padahal, seksi logistik juga memiliki peran yang penting, meskipun mereka lebih sering berada dibalik layar, tapi merekalah yang menyiapkan segala kebutuhan selama acara itu berlangsung, bahka tak jarang mereka malah dianggap sebagai pembantu yang harus mengangkat, memindahkan dan menata properti untuk bisa digunakan dan acara bisa berjalan lancar.


Dari beberapa contoh diatas, mungkin bisa menjadi bahan evaluasi untuk diri kita masing-masing agar bisa lebih peduli, lebih menghargai setiap hal-hal kecil yang dikerjakan orang-orang disekitar kita, bukan hanya menghargai orang-orang yang memiliki jabatan yang tinggi saja. Karena sejatinya setiap kebenaran individu sangat berpengaruh untuk kelangsungan individu lainnya. Peran mereka sebagai penunjang agar peran lain dapat berjalan.


Selagi seseorang sudah bisa menebarkan manfaat maka sepatutnya kita juga menghargai usaha yang telah diberikannya. Selagi orang itu menyebarkan pengaruh positif maka kita harus bisa mengapresiasi pemberiannya, sekecil dan sedikit apapun itu. Janganlah kita saling meremehkan, janganlah kita saling menebar cacian, dan menyepelekan. Jangan sampai kita baru menyadari pentingnya keberadaan seseorang setelah orang itu tiada. Jangan sampai kata candaan yang kita lontarkan justru menyulut api permusuhan. 


Kalau kita tidak bisa membantu, setidaknya jangan kita menambah beban. Kalau kita tidak bisa memberikan pujian jangan kita memberikan cacian, berikan kritik dan saran sebagai bentuk apresiasi dengan baik dan benar, dengan bahasa yang lembut.


Terima kasih.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beda Pilihan Bukan Alasan Untuk Saling Menyalahkan

Cita dan Bahagia

Identitas yang Disalahartikan