Berawal Dari Iri Jadi Lupa Diri
Assalamualaikum wr, wb.
Setelah lama fakum menulis blog, akhirnya saya memncoba memulai kembali untuk menulis, mencoba untuk mengungkapkan apa yang akhir-akhir saya amati.
Selama perjalanan dari umur 0 hari sampai tahun 2020 ini tentunya sudah banyak hal yang kita lalui, banyak kata yang baik sengaja atau tidak sengaja ditujukan orang lain untuk diri ini ataupun kata-kata yang berasal dari pikiran kita untuk diri sendiri. Siapa yang sudah tak asing dengan kata "dia mah enak, udah kaya dari lahir" atau "kamu mah enak, udah cantik dari dulu" atau "kan kamu mah beda, udah pinter dari sananya".
Kata-kata diatas sebenarnya mengandung banyak makna, antara pesimis dengan kemampuan diri atau iri dengan kelebihan (pencapaian) yang dimiliki orang lain. Dulu ada yang bercerita kepada saya, fase atau keadaan yang sedang kita alami saat ini itu seperti kita sedang menempuh sebuah perjalanan dengan sepeda. Saat kita sudah menaiki sepeda, maka kita akan mendamba untuk bisa memiliki motor yang bisa mengantarkan kita dalam perjalanan tersebut, saat kita sudah memiliki motor, kita akan mendamba untuk bisa memiliki mobil, saat kita sudah memiliki mobil, kita akan mendamba untuk bisa menempuh perjalanan lebih cepat menggunakan pesawat, saat kita sudah melakukannya, kita kembali mendamba untuk bisa memiliki jet pribadi yang bisa mengantarkan kemanapun kita pergi, setelah memiliki jet, apa kita sudah puas? Belum tentu, pasti masih banyak keinginan yang ingin kita miliki. Contoh tadi adalah saat kita menengadah, melihat keatas sesuatu yang dimiliki orang lain dari posisi di mana kita berada, yang sering kali membuat rasa iri kita berubah menjadi ambisi dan berakhir dengan tidak mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Namun, kenapa kita tidak coba sejenak melihat kebawah. Saat kita menempuh perjalanan menggunakan sepeda, masih ada yang menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, saat kita menempuh perjalanan dengan berjalan kaki, masih ada yang menempuh perjalanan dengan alat bantu berjalan karena keterbatasan atau ketidaksempurnaan alat gerak yang dimiliki, saat kita masih bisa menempuh perjalanan, masih ada orang-orang yang hanya bisa berdiam padahal mereka juga ingin bisa berjalan.
Kalau istilahnya "sawang sinawang, rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau". Apa yang kamu bilang tadi belum tentu kenyataannya seenak yang kamu lihat diposisi saat ini.
- Yang terlahir kaya, belum tentu ia bahagia. Mungkin mereka sudah melewatkan ribuan momen dan jutaan waktu yang biasa dilalui oleh keluarga, mungkin mereka malah terpenjara ditengah gunungan uang saat yang mereka butuhkan adalah kasih sayang.
- Yang terlihat cantik, kita tidak tau apa saja yang sudah mereka lewati, berapa banyak pundi rupiah yang sudah mereka korbankan, dan berapa banyak waktu yang sudah mereka sisihkan untuk merawat diri.
- Yang terlihat pintar, kita tidak tau berapa besar waktu bermain, bersantai atau liburan yang sudah mereka korbankan untuk bisa memahami materi yang mereka sulitkan.
Mengutip dari kata-kata imam sholat Idhul Fitri 2 atau 3 tahun yang lalu, saat itu saya menjadi salah satu jamaahnya, beliau berkata "nguwasi iku ojo mung ndangak, mundak kelenggak" yang artinya "melihat itu jangan cuma keatas, nanti bisa sakit leher". Ya, akan jadi sakit kalau kita tidak melihat kemampuan yang kita miliki dan hanya membandingkan pencapaian diri dengan pencapaian orang lain. Bukan berarti kita nggak boleh ngeliat keatas, bukan. Namun, selayaknya kita juga harus melihat kebawah, menggugah rasa syukur kita atas apa yang sudah kita raih saat ini.
- Orang yang kita bilang kaya, boleh jadi merindukan sesuatu yang sering kita abai keberadaannya.
- Orang yang kita bilang cantik, boleh jadi ia lelah dengan rutinitas yang ia lakukan dan orang lain tuntutkan.
- Orang yang kita bilang pintar, boleh jadi ia lebih sering didekati untuk dimanfaatkan.
Lalu di manakah syukur kita? saat kita masih diberi kesempatan untuk merasakan kasih sayang dari keluarga, mempunyai banyak teman yang tulus dan relasi yang ramah, masih bisa berpindah tempat sesuka hati, masih bisa liburan kesana sini, justru sering lupa mengucapkan syukur setiap hari. Lupa mengapresiasi apa yang sudah kita lakukan hari ini. Lupa dengan betapa banyak perjuangan yang sudah kita lewati.
Kalau kita ingin menjadi sosok sempurna yang kita lihat tadi (orang lain) lalu siapa yang akan menjadi diri kita sendiri ? Bukannya setiap makhluk sudah punya perannya masing-masing ? kalau bulan ingin menjadi matahari, siapa yang akan menyinari malam berdampingan dengan bintang? bukankah akan jauh lebih panas kalau kita punya 2 matahari di dunia ini?
Kalau semua konsumen ingin memiliki kedai makanan masing-masing, lalu siapa yang akan menjadi pembeli ?
Perkara iri, hampir setiap orang pasti pernah merasakannya. Namun, tidak semua orang bisa mengubahnya menjadi tindakan yang positif. Iri dengan teman yang lebih sukses, bukannya kita makin giat bekerja, tapi kita malah semakin malas dan mengeluh saja.
Iri dengan teman yang memiliki kemampuan akademik bagus, bukannya kita belajar, tapi kita malah mengucilkan dan mencemoohnya, "udahlah ngapain dikerjain sekarang sih, toh deadline-nya masih minggu depan, sok rajin banget" atau, "kita ngumpulin tugasnya bareng ya, tapi tungguin tugasku selesai dulu" ada lagi, "udah nggak usah dikerjain, dikelas nggak ada yang ngerjain, jangan nyari muka mulu".
Sudah banyak kata yang kita ucapkan tanpa sadar melukai orang lain. Jangan karena kita iri dan belum mencapai yang kita ingini, kita malah menjatuhkan orang yang diatas kita. Sejalan dengan kutipan, "dengan menjatuhkan orang lain, kamu tidak bisa mengangkat derajat rendahmu". Kalau memang mau bersaing, bersainglah dengan sportif. Kalau mau mencapai sesuatu berjuanglah dengan penuh. Bukan malah menjatuhkan orang yang posisinya kamu ingin tempati tadi, "belajarlah naik tanpa harus menginjak orang lain".
Teringat kata-kata guru biologi saya waktu kelas 12 SMA. "Kita lahir di dunia ini melalui proses yang berat, kita sudah mengalahkan ribuan sperma untuk bisa hidup di dunia. Terus, setelah di dunia masa kita mau gini-gini aja ?"
Yang perlu kita perbaiki itu pola pikirnya, yang tadinya, "kamu mah enak, bla-bla-bla" jadi, "aku harus berusaha biar bisa bla-bla-bla kayak dia". Yang tadinya, "aku mah nggak bakat begini" jadi, "setidaknya aku harus bisa seperti ini". Yang tadinya, "aku udah memilih jalan yang salah melanjutkan pendidikan di sini" jadi, "aku harus bisa menyelesaikan dan mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku mulai". Yang tadinya, "udahlah nggak usah dikerjain, soalnya susah-susah" jadi, "yuk belajar bareng, siapa tau bisa lebih mudah".
Kita tidak perlu mengubah diri kita menjadi orang lain hanya karena melihat kehidupan orang lain yang jauh lebih indah, yang perlu kita lakukan adalah bagaimana kita membuah hidup kita terasa indah, karena kebahagiaan ada ditangan kita sendiri, bukan ditangan orang lain dan bukan dengan standar yang orang lain ciptakan. Iri boleh, tapi jangan lupa diri. Jadikan irimu sebagai motivasi bukan malah menjerumuskanmu kedalam hal negatif yang merusak diri.
Allah itu maha adil kok, nggak ada makhluk-nya yang diciptakan 100% sempurna, semua punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Allah itu maha kaya, nggak mungkin pelit ngasih rezeki ke hamba-Nya asal hamba-Nya mau berdoa dan berusaha. Allah itu maha pandai, nggak mungkin menciptakan makhluk yang bodoh. Apalagi kelebihan manusia daripada makhluk hidup lainnya adalah memiliki akal, masa iya akal yang sudah dianugerahkan untuk kita mau kita sia-siakan begitu saja. Bukan kita bodoh, cuma kita butuh waktu lebih banyak untuk belajar hingga bisa memahami suatu materi. Kalau usaha yang kita lakukan masih berujung gagal, kita coba lagi, coba ulang, coba terus ! sampai kata gagal itu bosan sendiri dengan perjuangan yang kita tunjukkan, sampai habis semua jatah gagal kita dan akhirnya hasil yang kita capai menyerah, takluk dengan perjuangan kita untuk mendapatkannya.
Percayalah dibalik perjuangan keras, proses yang berat, kucuran keringat dan air mata yang mulai memadat, akan ada hasil hebat. Nikmati prosesnya, tahan mulutmu untuk mengeluh, ubah keluahanmu jadi mengadu, dan rasakan manisnya perjuanganmu.
Semoga postingan ini bisa bermanfaat. Jangan lupa bersyukur dan berterima kasih pada diri yang sudah membersamai hingga saat ini, hingga kuat berada dititik ini.
Salam hangat, kita hebat !
Wassalamualaikum wr,wb.
Komentar
Posting Komentar